Sabtu, 29 Desember 2007

Banjir Kiriman, 1.440 Rumah Terendam, Warga Mengungsi di Pinggir Rel


Sebanyak 1.440 rumah di Blora terendam banjir akibat meluapnya Bengawan Solo, Kamis (27/12). Hujan deras dua hari sebelumnya di daerah hulu sungai, menyebabkan ketinggian air di bagian hilir meningkat tajam. Padahal di Cepu dan sekitarnya sejak dua hari terakhir tidak hujan. Sejumlah warga menuturkan, banjir kali ini lebih besar dibanding bencana serupa April lalu. Ribuan warga di 18 desa di tiga kecamatan, yakni Cepu, Kedungtuban, dan Kradenan, mengungsi ke tempat yang lebih aman setelah rumah mereka terendam air.
''Sebenarnya kami sudah memperkirakan Bengawan Solo akan meluap karena di daerah hulu seperti Solo, Sragen, dan Ngawi banjir. Namun, kami tidak menduga luapan air akan setinggi ini,'' ujar Suroto, warga Kelurahan Balun, Kecamatan Cepu.
Kelurahan Balun merupakan daerah terparah. Sedikitnya 300 rumah yang berada tidak jauh dari bibir sungai, terendam. Ketinggian air di kawasan itu satu hingga dua meter.
Air yang meluap hingga satu kilometer ke arah daratan menyebabkan ratusan rumah lainnya ikut terendam. Ratusan warga memanfaatkan pinggiran rel kereta api (KA) sebagai tempat mengungsi. Puluhan tenda didirikan di jalur transportasi KA Cepu-Semarang. Sedangkan ratusan warga lainnya mengungsi ke rumah kerabat yang tidak dilanda banjir.
Sebelumnya, beberapa warga enggan mengungsi lantaran mengira air segera surut karena hujan tidak turun. Mereka tetap bertahan di rumahnya masing-masing. Namun perkiraan tersebut meleset. Air mulai naik saat tengah malam. Menjelang dini hari, debit air terus meningkat. Bahkan saat siangnya, luapan air meluber hingga ke jalan raya yang berjarak satu kilometer dari bibir sungai.
''Kami mengerahkan dua perahu karet dan beberapa perahu milik penambang pasir tradisional untuk menjemput warga yang terjebak banjir,'' ujar Kepala Kantor Polisi Pamong Praja Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat (Pol PP Kesbanglinmas), Suryanto.
Gelombang pengungsian terlihat pula di sejumlah desa di Kecamatan Kedungtuban dan Kradenan yang wilayahnya merupakan Daerah Aliran Sungai (DAS) Bengawan Solo. Sejumlah dapur umum didirikan para sukarelawan di lokasi pengungsian. Petugas kesehatan juga tampak membuka posko pengobatan. ''Banyak warga yang terserang penyakit gatal-gatal,'' ujar Suprihatin, salah seorang petugas kesehatan.
Selain merendam ribuan rumah, banjir juga menggenangi ribuan sawah yang baru saja ditanami padi. Tidak sedikit pula padi yang siap panen terendam air. ''Kami masih menghitung berapa kerugiannya. Alhamdulillah hingga kini tidak ada korban jiwa akibat banjir,'' ucap Suryanto yang memantau lokasi banjir bersama Bupati RM Yudhi Sancoyo.

Tidak ada komentar: